Apa Itu Neurodivergent?
Memahami Konsep dan Pentingnya Keberagaman Neurologis
Pengertian
Neurodivergent adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan individu yang memiliki perbedaan cara berpikir, belajar, merasakan, atau memproses informasi dibandingkan dengan mayoritas populasi, yang disebut sebagai neurotipikal.
Istilah ini berasal dari konsep neurodiversity (keragaman neurologis), yang mengakui bahwa variasi neurologis adalah bagian alami dari kondisi manusia dan bukan semata-mata sesuatu yang “salah” atau “harus diperbaiki.”
Asal Usul Istilah
Istilah "neurodivergent" pertama kali digunakan pada awal 2000-an oleh Kassiane Asasumasu, seorang aktivis autisme. Konsep ini berkembang dari gerakan neurodiversity, yang dipopulerkan oleh Judy Singer, seorang sosiolog autistik asal Australia.
Tujuan utamanya adalah mengubah cara pandang masyarakat terhadap kondisi neurologis yang selama ini sering dianggap sebagai gangguan atau kekurangan.
Siapa yang Termasuk Neurodivergent?
Seseorang dapat disebut neurodivergent jika memiliki satu atau lebih dari kondisi berikut, antara lain:
-
Autisme (ASD)
-
ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder)
-
Disleksia (kesulitan membaca dan bahasa)
-
Diskalkulia (kesulitan dalam matematika)
-
Dispraksia (kesulitan koordinasi motorik)
-
Tourette Syndrome
-
Highly Sensitive Person (HSP)
-
Individu dengan gangguan kecemasan, OCD, atau kondisi mental lainnya yang memengaruhi pola pikir dan perilaku
Perlu dicatat bahwa menjadi neurodivergent bukan berarti memiliki penyakit, melainkan menunjukkan cara kerja otak yang berbeda dari norma standar.

Mengapa Istilah Ini Penting?
Menggunakan istilah neurodivergent membantu:
✅ Menghapus stigma terhadap kondisi neurologis tertentu
✅ Menghargai keunikan individu dalam belajar, berkomunikasi, dan merespons dunia
✅ Mendorong inklusivitas dalam pendidikan, tempat kerja, dan lingkungan sosial
✅ Mendukung pendekatan berbasis kekuatan, bukan hanya fokus pada kelemahan atau gangguan
Kesimpulan
Neurodivergent bukan label negatif, melainkan pengakuan bahwa tidak semua otak bekerja dengan cara yang sama – dan itu adalah hal yang baik. Dengan memahami dan menerima konsep ini, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, empatik, dan menghargai keberagaman manusia dalam segala bentuknya.
“Different, not less.” – Temple Grandin
- Art
- General
- Crafts
- Dance
- Drinks
- Film
- Fitness
- Food
- Games
- Gardening
- Health
- Home
- Literature
- Music
- Networking
- Other
- Party
- Religion
- Shopping
- Sports
- Theater
- Wellness